Keesokan paginya, mereka bangun saat matahari mulai naik. Udara terasa segar dan hangat. Setelah sarapan ringan, mereka bersiap membawa catatan, kamera, dan alat pelindung. “Jalan ke sana tidak terlalu jauh,” kata Leon sambil menunjuk arah reruntuhan di ujung lembah. Mereka berjalan melewati padang rumput, menyeberangi sungai kecil, lalu naik sedikit ke bukit tempat reruntuhan berada. Bangunan itu tampak sudah sangat tua. Dindingnya ditutupi lumut dan sebagian sudah runtuh. “Aku merasa tempat ini dulunya penting,” kata Lily sambil menyentuh dinding batu. Di dalam reruntuhan, mereka menemukan ruang besar yang lantainya penuh dengan simbol. Di tengah ruangan, ada pilar pendek dengan cekungan kecil berbentuk lingkaran. Michael menatapnya. “Seperti tempat untuk menaruh sesuatu”. Misyel memeriksa catatannya. “Cekungan ini pas sekali dengan bentuk batu yang kita temukan.”Ryan mengangguk. “Tapi semua batu sudah kita gunakan untuk membuka ruangan sebelumnya. Mungkin ini… semacam pelacak?” Saat mereka berdiskusi, Leon menemukan jalan lain di balik reruntuhan. Sebuah pintu batu setengah terbuka yang tertutup oleh akar dan semak belukar. “Tempat ini belum selesai menunjukkan semua rahasianya,” katanya.
Leon membersihkan semak-semak di sekitar pintu batu. Mereka semua membantu menyingkirkan akar dan daun kering. Setelah itu, pintu bisa didorong perlahan dan terbuka dengan suara berderit. Di balik pintu, mereka menemukan lorong pendek yang mengarah ke dalam bukit. Tidak terlalu gelap, karena dari celah-celah batu, cahaya alami masuk menerangi jalan. “Tempat ini tidak sepenuhnya tertutup,” kata Lily. Lorong itu membawa mereka ke sebuah ruangan kecil. Di dalamnya hanya ada satu meja batu dan ukiran di dinding. Ukiran itu menggambarkan enam batu dengan garis-garis cahaya mengarah ke sebuah bola besar di tengah. Misyel mendekat dan membaca simbol di bawahnya. “Tertulis: ‘Enam Kekuatan, Satu Tujuan. Cahaya Bangkit Saat Dunia Gelap.’”Michael bertanya, “Apa maksudnya? Dunia gelap?” Ryan berpikir sejenak. “Mungkin batu-batu itu bukan hanya kunci, tapi sumber kekuatan. Sesuatu yang bisa digunakan jika ada ancaman besar”. Di bawah meja batu, Leon menemukan kotak kecil tertutup. Ia membuka perlahan dan di dalamnya ada sebuah benda seperti peta kuno. Tapi bukan peta tempat biasa, melainkan simbol-simbol aneh yang belum mereka lihat sebelumnya. “Aku rasa ini adalah petunjuk selanjutnya,” ujar Misyel. Mereka keluar dari ruangan itu sambil membawa peta misterius. Hari mulai sore, tapi semangat mereka justru semakin besar. Ada sesuatu yang menunggu untuk ditemukan — dan batu-batu itu mungkin hanyalah awal dari segalanya.
Malam itu, mereka duduk mengelilingi api unggun sambil memandangi peta aneh yang mereka temukan. Tidak ada tulisan yang mereka kenali, tapi ada banyak simbol yang menyerupai bintang dan garis-garis yang membentuk pola melingkar. “Aku rasa ini bukan peta tempat, tapi peta langit,” kata Lily sambil menunjuk salah satu simbol. Michael mengambil alat teropong kecilnya dan mengarahkan ke langit. “Coba cocokkan dengan posisi bintang malam ini.” Setelah beberapa kali mencoba, mereka menyadari pola di peta itu cocok dengan langit malam saat ini. “Ini seperti kalender bintang,” kata Misyel. “Mungkin ini menunjukkan waktu tertentu… saat sesuatu akan terjadi.” Ryan mengangguk. “Atau mungkin ini petunjuk ke mana kita harus pergi selanjutnya, tergantung posisi bintang.” Di bagian bawah peta, ada enam titik berwarna yang mencocokkan warna batu-batu mereka: merah, hijau, biru tua, biru muda, kuning, dan hitam. Di tengahnya, sebuah lingkaran besar kosong. “Kita harus mencari tempat di peta ini, tempat yang cocok untuk menggabungkan kekuatan enam batu,” ucap Leon. Malam itu, mereka tidur lebih cepat. Esok hari, mereka berencana naik ke puncak bukit untuk melihat lebih luas dan mencoba mencocokkan peta langit dengan kondisi sekitar. Petualangan belum selesai. Justru sekarang, rahasia sebenarnya mulai terbuka.
Pagi-pagi sekali, mereka sudah bersiap. Kabut tipis masih menyelimuti lembah, tapi cahaya matahari mulai muncul di balik bukit. “Kalau kita ingin tahu ke mana peta itu menunjuk, kita harus melihat semuanya dari tempat tinggi,” kata Ryan. Perjalanan menuju puncak bukit cukup melelahkan. Jalan setapak curam dan penuh batu. Sesekali mereka berhenti untuk minum dan melihat sekeliling. Tapi semangat mereka tetap tinggi. Setelah hampir dua jam mendaki, akhirnya mereka sampai di puncaknya. Dari sana, mereka bisa melihat seluruh lembah. Sungai yang berkelok, hutan yang lebat, dan reruntuhan-reruntuhan kecil yang belum pernah mereka lihat dari bawah. Leon mengeluarkan peta langit yang mereka temukan. Ia mencocokkan simbol bintang dengan arah dari matahari. “Lihat itu,” kata Misyel sambil menunjuk ke arah barat daya. “Ada sebuah lingkaran batu besar. Seperti altar. Mereka semua melihat ke arah yang sama. Di tengah hutan, memang tampak area melingkar seperti lingkaran batu besar yang tertata rapi. “Sepertinya itu tempat yang kita cari,” kata Lily. Ryan menandai arah di kompas. “Kita turun sekarang. Sore ini kita harus sampai ke sana.” Mereka turun bukit dengan hati-hati dan langsung mempersiapkan perjalanan ke arah lingkaran batu yang misterius itu.
Hari mulai sore ketika mereka tiba di tengah hutan. Perjalanan tidak mudah—semak-semak lebat dan akar pohon besar sering menghalangi jalan. Namun akhirnya, mereka melihat tempat yang mereka cari. Di depan mereka terbentang lingkaran batu besar. Batu-batu tinggi berdiri mengelilingi tanah kosong di tengahnya. Setiap batu memiliki ukiran berbeda. Sebagian sudah ditumbuhi lumut, tapi bentuknya masih jelas. “Ini seperti tempat upacara,” kata Leon pelan. “Atau… tempat pertemuan penting zaman dulu.” Ryan melangkah ke tengah lingkaran. Saat kakinya menyentuh titik tengah, batu-batu itu mengeluarkan cahaya samar. Warna-warna cahaya menyerupai enam batu yang mereka bawa: merah, hijau, biru tua, biru muda, kuning, dan hitam. Misyel mengeluarkan batu-batu itu dari kantongnya. Mereka semua mulai bersinar lebih terang. “Tempat ini pasti dibuat untuk menyatukan kekuatan batu,” kata Lily. Michael memperhatikan ukiran di salah satu batu. “Ada simbol seperti arah angin… dan angka. Mungkin… ini semacam petunjuk lagi?” Tiba-tiba, tanah sedikit bergetar. Di tengah lingkaran muncul sebuah piringan batu bulat dari bawah tanah. Di atasnya ada lubang kecil dengan bentuk yang cocok untuk enam batu. “Ini dia,” kata Ryan dengan suara rendah. “Mungkin… ini langkah terakhir. Mereka saling menatap. Hari mulai gelap, tapi di tempat itu, cahaya dari batu-batu membuat segalanya terlihat jelas. “Ayo, kita lanjutkan besok pagi,” kata Lily. “Kita istirahat dulu. Besok… mungkin semuanya akan berubah.” Mereka setuju. Malam itu, mereka berkemah tidak jauh dari lingkaran batu, sambil bertanya-tanya—apa yang akan terjadi jika keenam batu dimasukkan ke dalam piringan itu?
Pagi harinya, udara terasa dingin tapi segar. Embun masih menempel di daun-daun saat mereka berkumpul kembali di tengah lingkaran batu. Cahaya matahari perlahan menembus celah pepohonan, menyinari piringan batu di tengah. “Sudah saatnya,” kata Ryan pelan. Misyel mengeluarkan keenam batu: merah, hijau, biru tua, biru muda, kuning, dan hitam. Mereka meletakkannya satu per satu ke dalam lubang yang sesuai bentuk dan warnanya. Begitu batu terakhir diletakkan, seluruh piringan menyala terang. Lingkaran batu mulai bergetar pelan, dan cahaya naik ke langit membentuk seperti tiang cahaya. Michael menatap ke atas. “Apa yang sedang terjadi?” Lily melihat ke sekeliling. “Lihat… tanahnya berubah.” Tanah di sekitar lingkaran membelah perlahan, membentuk jalur yang memanjang ke hutan sebelah. Dari kejauhan, tampak struktur batu besar mulai muncul dari bawah tanah. Bangunan kuno—seperti kuil atau tempat suci—terlihat perlahan naik ke permukaan. Leon hampir tak bisa bicara. “Kita baru saja… membangunkan sesuatu yang tertidur lama.” Cahaya dari batu-batu menyatu lalu menghilang masuk ke dalam tanah. Piringan batu kembali seperti semula—diam dan tenang. “Apa ini akhir dari pencarian kita?” tanya Lily. Ryan menggeleng. “Aku rasa ini justru permulaan. Kita sudah membuka sesuatu yang besar. Sekarang kita harus mencari tahu… kenapa semua ini dibuat.” Mereka menatap ke arah bangunan kuno yang kini terlihat jelas di ujung jalur. Mereka tahu, langkah berikutnya akan membawa mereka lebih dalam lagi ke rahasia yang selama ini tersembunyi. Dan petualangan mereka… masih jauh dari selesai.
Mereka berjalan menyusuri jalur batu yang terbuka setelah keenam batu diaktifkan. Jalan itu lurus, dengan rumput di sekelilingnya dan pohon-pohon tinggi yang membuat bayangan panjang. Di ujungnya, berdiri sebuah bangunan kuno yang baru saja muncul dari dalam tanah. Dindingnya tinggi, terbuat dari batu besar, dan penuh ukiran aneh yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. “Tempat ini sudah lama terkubur,” kata Michael sambil menyentuh dindingnya. “Tapi bangunannya masih utuh. Misyel memperhatikan pintu besar di depan mereka. “Sepertinya ini bukan sekadar bangunan biasa. Mungkin ini tempat para pembuat batu tinggal dulu.” Pintu itu perlahan terbuka saat mereka mendekat. Tak ada suara keras, hanya gemuruh kecil. Di dalamnya, ruangan luas terlihat. Tidak gelap, karena ada cahaya lembut yang keluar dari dinding dan langit-langit. Seolah tempat itu masih hidup. Mereka masuk dengan hati-hati. Lantai batu yang mereka injak kuat dan bersih, meski tidak ada yang merawatnya. Di tengah ruangan, ada meja batu besar yang dikelilingi oleh kursi-kursi dari batu juga. Di atas meja itu, tergambar peta… tapi bukan peta dunia yang mereka kenal. Ryan menunjuk peta itu. “Ini… seperti peta tempat-tempat tersembunyi. Lihat, ada tanda-tanda di sini.” Leon mengangguk. “Mungkin peta ini menunjukkan tempat lain yang punya hubungan dengan batu batu itu.” Lily menyentuh dinding di belakang meja. Tiba-tiba, dinding itu memunculkan gambar-gambar yang bergerak seperti cerita kuno. Mereka melihat sosok-sosok seperti penjaga batu, cahaya besar, dan bencana yang terjadi saat batu-batu itu tidak seimbang. “Kita harus pelajari semua ini,” kata Misyel serius. “Mungkin ini akan menjelaskan kenapa kita dipilih untuk menemukan batu-batu itu.” Ryan mengangguk. “Dan mungkin juga… menjelaskan apa yang harus kita lakukan selanjutnya.”
Gambar-gambar di dinding terus bergerak, seperti lukisan hidup yang menunjukkan potongan-potongan kisah lama. Ryan dan yang lain berdiri diam, memperhatikan dengan saksama. Mula-mula tampak enam orang berdiri di atas sebuah gunung. Masing-masing memegang sebuah batu—merah, hijau, biru tua, biru muda, kuning, dan hitam. “Mereka seperti penjaga pertama,” bisik Lily. Gambar itu berubah. Enam batu diletakkan dalam pola melingkar. Setelah itu, cahaya besar muncul dari tengah-tengah lingkaran dan menjalar ke seluruh tempat. Tanaman tumbuh, sungai mengalir deras, dan kehidupan muncul di mana-mana. “Itu kekuatan batu-batu itu,” kata Leon. “Mereka membawa keseimbangan dan kehidupan.” Namun tak lama kemudian, gambar-gambar menjadi gelap. Salah satu batu diambil paksa oleh sosok bertudung hitam. Cahaya menjadi padam. Tanah retak, dan air mengering. Bangunan-bangunan hancur, dan dunia tampak rusak. Misyel menarik napas pelan. “Kalau satu batu saja hilang, bisa terjadi bencana.” Lalu gambar berubah lagi. Para penjaga terakhir menyembunyikan batu-batu itu ke tempat yang berbeda, dengan harapan suatu saat seseorang akan menemukannya dan memulihkan keseimbangan. Di akhir cerita, muncul simbol lingkaran batu—seperti yang mereka aktifkan sebelumnya—dan peta dunia yang terpecah menjadi beberapa bagian. “Kita sudah menemukan keenam batu,” kata Michael pelan. “Berarti sekarang… tugas kita adalah menjaga keseimbangan itu.”Ryan menatap dinding yang kini mulai meredup. “Mungkin kita bukan hanya penemu. Mungkin kita adalah penjaga baru.”
Pagi hari, setelah sarapan cepat, mereka berjalan menuju reruntuhan di seberang lembah. Tapi untuk sampai ke sana, mereka harus melewati sebuah jurang yang cukup dalam. Di atas jurang itu hanya ada satu jembatan kayu tua, yang sudah mulai lapuk. “Kita harus hati-hati,” kata Ryan sambil mengecek kekuatan tali pengikat jembatan. Angin berhembus kencang. Jembatan itu bergoyang pelan. Tapi mereka tak punya pilihan lain. Michael melangkah duluan. Dia mencoba tidak membuat jembatan banyak bergerak. Di belakangnya, Lily dan Misyel mengikuti perlahan. Ryan dan Leon menunggu sampai yang lain hampir sampai di ujung sana. Tiba-tiba salah satu papan kayu patah saat Lily menginjaknya. “Aaaah!” teriak Lily, tangannya menggenggam tali erat-erat. Kakinya menggantung di udara. Michael cepat menarik lengannya. “Pegangan, Lil! Aku tarik kamu!” Dengan susah payah, Lily berhasil naik kembali ke jembatan. Nafasnya terengah-engah. “Terima kasih…” katanya. Setelah kejadian itu, semua jadi makin hati-hati. Akhirnya mereka berhasil sampai ke seberang jurang. Di depan mereka, reruntuhan tua menjulang tinggi. Ada gerbang besar dari batu dengan ukiran aneh. “Tempat ini seperti menjaga sesuatu,” kata Leon pelan. Ryan mengangguk. “Dan kita akan cari tahu apa itu.”
Setelah melewati jembatan, Ryan, Michael, Lily, Leon, dan Misyel berdiri di depan pintu batu besar. Pintu itu tertutup rapat dan tidak ada pegangan atau kunci yang terlihat. “Gimana cara bukanya?” tanya Leon sambil mengelilingi sisi pintu. Misyel menunjuk ke ukiran enam lingkaran kecil di tengah pintu. “Lihat, ini seperti bentuk enam batu yang kita punya.” Mereka mengeluarkan enam batu: merah, hijau, biru tua, biru muda, kuning, dan hitam. Ryan mencoba menempatkannya satu per satu ke lingkaran itu. Ketika batu keenam dipasang, pintu batu itu bergetar pelan. Cahaya keluar dari celah-celah ukiran. Tapi pintu tetap tidak terbuka. Michael mengerutkan dahi. “Mungkin urutannya salah?” Lily mencoba mengubah posisi beberapa batu. Kali ini, setelah dipasang, pintu itu bergetar lebih keras, lalu terbuka perlahan dengan suara berat. Di balik pintu itu, tampak ruangan gelap dan dalam. Ada tangga batu yang turun ke bawah. “Sepertinya kita harus masuk,” kata Ryan. “Ini pasti tempat yang disembunyikan dengan baik,” ucap Misyel. Dengan hati-hati, mereka menyalakan obor dan mulai menuruni tangga. Udara di dalam dingin dan lembab. Tapi mereka tahu, semakin dalam mereka masuk, semakin dekat dengan jawaban yang selama ini mereka cari.
Tinggalkan Balasan ke bennedicthacherryl Batalkan balasan