Zona Merah 1

Namanya Ryan. Ia seorang ilmuwan muda, dan dia baru saja terlibat dalam sebuah misi paling menakutkan yang pernah dia ikuti. Bersama empat ilmuwan lainnya Michael, Lily, Leon, dan Misyel mereka mendapat tugas untuk menjelajahi bagian dunia yang belum pernah dijamah manusia. Tempat ini hanya dikenal sebagai “Zona Tak Bernama.” Mereka tidak tahu pasti apa yang ada di sana. Peta satelit tidak bisa menembus kabut yang selalu menyelimuti wilayah itu. Tak ada sinyal, tak ada data. Semuanya kosong. Tapi justru itu yang membuat mereka semakin penasaran. Mereka adalah lima orang dipilih karena punya keahlian berbeda. Ryan ahli geografi dan pemetaan. Michael jago teknologi dan alat canggih. Lily ahli tumbuhan. Leon ahli binatang. Dan Misyel, dia ahli simbol kuno dan bahasa asing.

Perjalanan dimulai dari pangkalan di pinggir hutan. Mereka naik helikopter, lalu turun di titik terakhir yang bisa dijangkau manusia. Setelah itu, semua tergantung diri mereka sendiri. Hari pertama berjalan lancar. Mereka memasuki zona aneh itu sambil mencatat semua hal kecil jenis tanaman, suhu, kelembapan, bahkan arah angin. Tapi hal pertama yang membuat mereka merasa tidak nyaman adalah hutan yang sangat sunyi. Tak ada suara burung. Maupun suara hewan lain.

Malamnya, mereka mendirikan tenda dan menyalakan api unggun. Lalu mereka membuat rencana untuk esok hari. Malam itu, mereka tidur bergantian. Tapi sekitar pukul 2 pagi, mereka semua terbangun karena mendengar suara langkah pelan di luar tenda. Tidak jelas, tapi cukup membuat mereka ketakutan. Pagi itu, udara lebih dingin dari biasanya. Kabut masih tebal, membuat pandangan hanya beberapa meter saja. Mereka keluar dari tenda dan memeriksa sekitar. “Tidak ada jejak kaki,” kata Leon. “Tapi jelas semalam ada yang jalan.” Mereka sarapan dan mulai menjelajah lebih dalam. Setelah berjalan dua jam, mereka tiba di sebuah lapangan kecil di tengah hutan. Di sana ada bangunan batu kecil, seperti pondok tua yang sudah ditinggalkan. “Siapa yang bangun ini di tempat terpencil seperti ini?” tanya Lily. “Kalau ini buatan manusia, pasti sudah sangat lama,” jawab Misyel.

Mereka masuk ke dalam bangunan itu. Gelap dan lembab. Di dinding belakang ada ukiran simbol-simbol aneh. Misyel mulai mencatat dan menggambarnya di buku. “Simbol ini. bukan bahasa biasa. Tapi seperti suatu petunjuk,” katanya. Lantai bangunan juga aneh. Ada batu bulat kecil berwarna kuning dengan pola aneh di atasnya. Lily mengambil satu dan menunjukkannya ke Michael. “Aku rasa ini bukan batu biasa,” katanya. Mereka tak lama di sana, karena tiba-tiba terdengar keributan di luar. Mereka berlari keluar dan melihat salah satu tas makanan mereka terbuka dan isinya berserakan. “Apakah ada Binatang?” tanya Leon. “Kalau binatang, harusnya diseret. Ini seperti dibuka dan diperiksa,” jawab Ryan.

Mereka memutuskan pindah lokasi kemah. Tempat itu terlalu terbuka dan terlalu dekat dengan bangunan misterius. Malamnya, Misyel membuka catatannya. “Ukiran itu seperti peta. Mungkin bangunan itu cuma bagian awal dari sesuatu yang lebih besar.” Semuanya terdiam. Keesokan paginya, Mereka mengikuti arah dari simbol yang digambar Misyel. Mereka berjalan ke timur, menyusuri sungai kecil yang dikelilingi pohon raksasa. Hari itu kabut agak tipis, dan mereka bisa melihat lebih jauh. Setelah menempuh jarak hampir lima kilometer, mereka menemukan batu besar berbentuk setengah lingkaran, hampir seperti pintu. Di atasnya ada simbol yang mirip dengan yang ada di bangunan batu sebelumnya. “Sepertinya ini gerbang,” kata Misyel.

Leon menemukan semacam celah di bagian bawah. Michael mencoba menekan batu kecil di dekatnya, dan perlahan batu itu bergeser, membuka lorong kecil ke dalam tanah. “Kita masuk?” tanya Lily. “Pelan-pelan,” kata Ryan. Lorong itu sempit, tapi cukup untuk mereka lalui satu per satu. Di ujung lorong, mereka menemukan ruang bawah tanah kecil dengan altar batu di tengahnya. Di atas altar itu ada satu batu bulat yang mirip dengan yang mereka temukan di bangunan sebelumnya. Misyel mengambilnya. Begitu disentuh, dinding ruangan bersinar sebentar lalu redup kembali. Mereka keluar dengan membawa batu itu. Tapi sebelum jauh, mereka menyadari ada jejak kaki. “Ini mulai tidak lucu,” kata Leon. “Kita harus catat semuanya dan lanjut ke tempat berikutnya,” kata Ryan.

Mereka bermalam tidak jauh dari batu pintu itu. Malam itu sunyi seperti biasa, tapi tidak ada gangguan. Paginya, saat mereka memeriksa alat-alat, Michael menemukan sesuatu yang aneh. “Alat pemindai gerakan menangkap aktivitas di sekitar tenda semalam. Tapi terlalu cepat untuk manusia.” Mereka menelusuri jejak itu. Hanya sedikit bekas tanah terinjak. Tapi salah satu pohon di dekatnya ada goresan yang sangat dalam, seperti dicakar makhluk besar. “Apa pun itu, dia memperhatikan kita,” kata Lily. Mereka mencoba tidak panik. Michael lalu memeriksa batu yang ia bawa kemarin. Saat ia meletakkannya di atas alat pemindai medan, alat itu menunjukkan gelombang magnetik aneh yang berasal dari arah barat. “Sepertinya batu ini seperti kompas ke lokasi berikutnya,” katanya. Misyel mencocokkan dengan peta buatannya. “Jika benar, kita harus ke arah barat laut. Mungkin sekitar dua atau tiga hari perjalanan”. Ryan Mengangguk. “Kita kumpulkan semua data, bersiap, dan melanjutkan perjalanan.”

Pagi itu kabut terasa lebih tebal dan dingin dari biasanya. Mereka semua bangun lebih awal karena tidal bisa tidur nyenyak. Ryan duduk diam di dekat batu besar yang semalam  ia temukan. Batu itu berbentuk melengkung seperti pintu, dan di permukaannya ada ukiran simbol aneh—lingkaran dengan empat titik di sekelilingnya. Michael membawa alat pemindai. “Aku coba lihat isi dalam batu ini,” katanya. Layar alat menunjukkan ada ruang kosong di balik batu, dan seperti ada dua lorong kecil bercabang. Tapi pintu masuknya masih tertutup rapat. “Kayaknya ini bukan batu biasa,” kata Leon. “Simbol ini kayak arah mata angin,” ujar Lily sambil menunjuk lingkaran di tengah batu.

Misyel mendekat. “Mungkin ini semacam kunci. Tapi kita harus aktifkan dulu”. Michael menempelkan alat getaran ke batu dan menyalakannya pelan. Beberapa detik kemudian, batu itu bergetar sedikit. Lalu dari bagian kirinya muncul celah. Perlahan, pintunya terbuka ke samping. “Kita masuk seperti biasa. Aku di depan,” kata Ryan. Lorong di dalamnya menurun tajam. mereka berjalan pelan sambil menyalakan senter. Di ujung lorong, mereka menemukan ruang kecil dengan satu meja batu di tengah. Di atas meja ada lima lubang bundar. Dinding-dindingnya penuh dengan simbol bercahaya samar. “Coba taruh batu bulat yang kita temukan sebelumnya,” kata Leon. Misyel mengeluarkan batu itu dan menaruhnya di satu lubang. Begitu batu menyentuh lubangnya, dinding mulai bersinar lebih terang. Simbol-simbol di sekeliling mereka menyala seperti peta. Salah satu simbol berkedip.

Perjalanan dimulai dari pangkalan di pinggir hutan. Mereka naik helikopter, lalu turun di titik terakhir yang bisa dijangkau manusia. Setelah itu, semua tergantung diri mereka sendiri. Hari pertama berjalan lancar. Mereka memasuki zona aneh itu sambil mencatat semua hal kecil jenis tanaman, suhu, kelembapan, bahkan arah angin. Tapi hal pertama yang membuat mereka merasa tidak nyaman adalah hutan yang sangat sunyi. Tak ada suara burung. Maupun suara hewan lain.

Malamnya, mereka mendirikan tenda dan menyalakan api unggun. Lalu mereka membuat rencana untuk esok hari. Malam itu, mereka tidur bergantian. Tapi sekitar pukul 2 pagi, mereka semua terbangun karena mendengar suara langkah pelan di luar tenda. Tidak jelas, tapi cukup membuat mereka ketakutan. Pagi itu, udara lebih dingin dari biasanya. Kabut masih tebal, membuat pandangan hanya beberapa meter saja. Mereka keluar dari tenda dan memeriksa sekitar. “Tidak ada jejak kaki,” kata Leon. “Tapi jelas semalam ada yang jalan.” Mereka sarapan dan mulai menjelajah lebih dalam. Setelah berjalan dua jam, mereka tiba di sebuah lapangan kecil di tengah hutan. Di sana ada bangunan batu kecil, seperti pondok tua yang sudah ditinggalkan. “Siapa yang bangun ini di tempat terpencil seperti ini?” tanya Lily. “Kalau ini buatan manusia, pasti sudah sangat lama,” jawab Misyel.

Mereka masuk ke dalam bangunan itu. Gelap dan lembab. Di dinding belakang ada ukiran simbol-simbol aneh. Misyel mulai mencatat dan menggambarnya di buku. “Simbol ini. bukan bahasa biasa. Tapi seperti suatu petunjuk,” katanya. Lantai bangunan juga aneh. Ada batu bulat kecil berwarna kuning dengan pola aneh di atasnya. Lily mengambil satu dan menunjukkannya ke Michael. “Aku rasa ini bukan batu biasa,” katanya. Mereka tak lama di sana, karena tiba-tiba terdengar keributan di luar. Mereka berlari keluar dan melihat salah satu tas makanan mereka terbuka dan isinya berserakan. “Apakah ada Binatang?” tanya Leon. “Kalau binatang, harusnya diseret. Ini seperti dibuka dan diperiksa,” jawab Ryan.

Mereka memutuskan pindah lokasi kemah. Tempat itu terlalu terbuka dan terlalu dekat dengan bangunan misterius. Malamnya, Misyel membuka catatannya. “Ukiran itu seperti peta. Mungkin bangunan itu cuma bagian awal dari sesuatu yang lebih besar.” Semuanya terdiam. Keesokan paginya, Mereka mengikuti arah dari simbol yang digambar Misyel. Mereka berjalan ke timur, menyusuri sungai kecil yang dikelilingi pohon raksasa. Hari itu kabut agak tipis, dan mereka bisa melihat lebih jauh. Setelah menempuh jarak hampir lima kilometer, mereka menemukan batu besar berbentuk setengah lingkaran, hampir seperti pintu. Di atasnya ada simbol yang mirip dengan yang ada di bangunan batu sebelumnya. “Sepertinya ini gerbang,” kata Misyel.

Leon menemukan semacam celah di bagian bawah. Michael mencoba menekan batu kecil di dekatnya, dan perlahan batu itu bergeser, membuka lorong kecil ke dalam tanah. “Kita masuk?” tanya Lily. “Pelan-pelan,” kata Ryan. Lorong itu sempit, tapi cukup untuk mereka lalui satu per satu. Di ujung lorong, mereka menemukan ruang bawah tanah kecil dengan altar batu di tengahnya. Di atas altar itu ada satu batu bulat yang mirip dengan yang mereka temukan di bangunan sebelumnya. Misyel mengambilnya. Begitu disentuh, dinding ruangan bersinar sebentar lalu redup kembali. Mereka keluar dengan membawa batu itu. Tapi sebelum jauh, mereka menyadari ada jejak kaki. “Ini mulai tidak lucu,” kata Leon. “Kita harus catat semuanya dan lanjut ke tempat berikutnya,” kata Ryan.

Mereka bermalam tidak jauh dari batu pintu itu. Malam itu sunyi seperti biasa, tapi tidak ada gangguan. Paginya, saat mereka memeriksa alat-alat, Michael menemukan sesuatu yang aneh. “Alat pemindai gerakan menangkap aktivitas di sekitar tenda semalam. Tapi terlalu cepat untuk manusia.” Mereka menelusuri jejak itu. Hanya sedikit bekas tanah terinjak. Tapi salah satu pohon di dekatnya ada goresan yang sangat dalam, seperti dicakar makhluk besar. “Apa pun itu, dia memperhatikan kita,” kata Lily. Mereka mencoba tidak panik. Michael lalu memeriksa batu yang ia bawa kemarin. Saat ia meletakkannya di atas alat pemindai medan, alat itu menunjukkan gelombang magnetik aneh yang berasal dari arah barat. “Sepertinya batu ini seperti kompas ke lokasi berikutnya,” katanya. Misyel mencocokkan dengan peta buatannya. “Jika benar, kita harus ke arah barat laut. Mungkin sekitar dua atau tiga hari perjalanan”. Ryan Mengangguk. “Kita kumpulkan semua data, bersiap, dan melanjutkan perjalanan.”

Pagi itu kabut terasa lebih tebal dan dingin dari biasanya. Mereka semua bangun lebih awal karena tidal bisa tidur nyenyak. Ryan duduk diam di dekat batu besar yang semalam  ia temukan. Batu itu berbentuk melengkung seperti pintu, dan di permukaannya ada ukiran simbol aneh—lingkaran dengan empat titik di sekelilingnya. Michael membawa alat pemindai. “Aku coba lihat isi dalam batu ini,” katanya. Layar alat menunjukkan ada ruang kosong di balik batu, dan seperti ada dua lorong kecil bercabang. Tapi pintu masuknya masih tertutup rapat. “Kayaknya ini bukan batu biasa,” kata Leon. “Simbol ini kayak arah mata angin,” ujar Lily sambil menunjuk lingkaran di tengah batu.

Misyel mendekat. “Mungkin ini semacam kunci. Tapi kita harus aktifkan dulu”. Michael menempelkan alat getaran ke batu dan menyalakannya pelan. Beberapa detik kemudian, batu itu bergetar sedikit. Lalu dari bagian kirinya muncul celah. Perlahan, pintunya terbuka ke samping. “Kita masuk seperti biasa. Aku di depan,” kata Ryan. Lorong di dalamnya menurun tajam. mereka berjalan pelan sambil menyalakan senter. Di ujung lorong, mereka menemukan ruang kecil dengan satu meja batu di tengah. Di atas meja ada lima lubang bundar. Dinding-dindingnya penuh dengan simbol bercahaya samar. “Coba taruh batu bulat yang kita temukan sebelumnya,” kata Leon. Misyel mengeluarkan batu itu dan menaruhnya di satu lubang. Begitu batu menyentuh lubangnya, dinding mulai bersinar lebih terang. Simbol-simbol di sekeliling mereka menyala seperti peta. Salah satu simbol berkedip.

“Lihat,” kata Michael, “mungkin ini petunjuk lokasi batu berikutnya”. Misyel mencatat semua simbol dan pola yang muncul. Tak lama kemudian, cahaya padam, dan batu keluar sendiri dari lubangnya. “Jadi batu ini cuma dipakai sementara. Kayaknya cuma buat ngasih petunjuk,” kata Misyel. Mereka kembali keluar lewat lorong itu. Tapi saat sampai di luar, kabut belum hilang malah makin tebal. Tiba-tiba Mereka mendengar suara dari dalam hutan. Suara seperti orang menyanyi pelan, tapi nadanya sangat rendah. Tidak seperti lagu biasa, dan bahasanya tidak mereka kenali. Mereka semua diam. Ryan memberi isyarat untuk tidak bergerak. Suara itu terdengar lagi, lalu makin menjauh, dan akhirnya hilang di balik pepohonan. “Aku nggak yakin itu suara manusia,” bisik Leon. “Kita harus lebih waspada mulai sekarang,” kata Ryan. “Mungkin bukan cuma kita yang ada di tempat ini.

50 tanggapan untuk “Zona Merah 1”

  1. Bagus Banget!!!!

    Suka

  2. Ok ceritanya bagus

    Suka

  3. magnificent1c21c4ae55 Avatar
    magnificent1c21c4ae55

    cerita menarik

    Suka

  4. magnificent1c21c4ae55 Avatar
    magnificent1c21c4ae55

    aku suka banget

    Suka

  5. magnificent1c21c4ae55 Avatar
    magnificent1c21c4ae55

    mantap bet

    Suka

  6. wah keren bangetttttt aku terpukauuu pertama kali baca yang sekeren dan seseru ini sih.. ini jadi bacaan favorit aku selama aku hidup. Sukaaaaa bangetttttttt gilaaaaaaa

    Suka

  7. wih keren cucu opa

    Suka

  8. asik nih bab 1 nya

    Suka

  9. magnificent1c21c4ae55 Avatar
    magnificent1c21c4ae55

    mantabbb betul

    Suka

  10. mantab betul

    Suka

  11. keren bet wowowwwww

    Suka

  12. Mamah sayang kamu Avatar
    Mamah sayang kamu

    keren banget sih menurut aku. Paling perbanyak aja kata ya

    Suka

  13. Papah sayang kamu Avatar
    Papah sayang kamu

    wih mantab brian king

    Suka

  14. Adek sayang kamu Avatar
    Adek sayang kamu

    wih gg bet king brian

    Suka

  15. Kakak sayang kamu Avatar
    Kakak sayang kamu

    gila aku terpukau banget

    Suka

  16. king tutor kretek sg 2

    Suka

  17. PT.Mobile legend Avatar
    PT.Mobile legend

    gelo king

    Suka

  18. PT.Free Fire Indonesia Avatar
    PT.Free Fire Indonesia

    suhu

    Suka

  19. PT.Indofood TBK Avatar
    PT.Indofood TBK

    wih ini sih yang paling bagus

    Suka

  20. PT.Bank Central Capital Avatar
    PT.Bank Central Capital

    Mau Disponsorin nga

    Suka

  21. Saya suka saya suka

    Suka

  22. Wih Bagus

    Suka

  23. PT.Citra Buana Indonesia Avatar
    PT.Citra Buana Indonesia

    wih keren

    Suka

  24. PT.Bank Republik Simatupang Avatar
    PT.Bank Republik Simatupang

    gila terbaik kamu

    Suka

  25. PT.Sushi Indonesia Avatar
    PT.Sushi Indonesia

    sushi is good

    Suka

  26. PT.Lippo Indonesia Avatar
    PT.Lippo Indonesia

    mantab bosku

    Suka

  27. Penerus albert einsten

    Suka

  28. Leonardo Davinci Avatar
    Leonardo Davinci

    mantul

    Suka

  29. PT.Tbrak kretek Indonesia Avatar
    PT.Tbrak kretek Indonesia

    Kuy maknyus

    Suka

  30. PT.Clash Royale Avatar
    PT.Clash Royale

    Mau sponsor nga

    Suka

  31. PT.Makmur Sejahter bapak akku Avatar
    PT.Makmur Sejahter bapak akku

    Ka Mau Sponsor?

    Suka

  32. PT.Claw Star Indinesia Avatar
    PT.Claw Star Indinesia

    wih Kerem

    Suka

  33. PT.Good year Inggris Avatar
    PT.Good year Inggris

    sponsor asik nih

    Suka

  34. PT.Maxim Mexico Avatar
    PT.Maxim Mexico

    kamu mau berapa ban

    Suka

  35. Min tutor

    Suka

  36. wih keren

    Suka

Tinggalkan Balasan ke magnificent1c21c4ae55 Batalkan balasan

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai