Setelah batu pertama berhasil mereka ambil, mereka kembali ke ruangan altar utama. Saat Ryan meletakkannya di lekukan pertama, ruangan sedikit bergetar. Tiba-tiba, salah satu dinding bergeser membuka, memperlihatkan lorong baru yang sebelumnya belum terbuka. Sebelum nya ruangan tidak bisa terbuka karena mereka salah meletakkan batu. Dari balik lorong tersebut, keluar sosok aneh seperti makhluk kuno, tinggi dan menyeramkan. Tapi dia tidak menyerang. Dia hanya berdiri dan menunjuk ke lorong lain yang sebelumnya tidak mereka pilih. “Apa itu nyuruh kita ke sana?” Tanya Leon.
Akhirnya, mereka mengikuti arah yang ditunjuk makhluk itu. Lorong itu gelap dan lembap. mereka harus jalan pelan-pelan karena lantainya licin. Setelah beberapa menit, mereka menemukan kotak batu kecil di bawah akar yang menjuntai dari atap lorong. Ryan membuka kotak itu. Di dalamnya ada batu bulat kedua, warnanya merah dan permukaannya kasar. “Dapat lagi,” kata Michael. Mereka membawa batu itu kembali ke altar dan meletakkannya di lekukan kedua. Altar menyala sedikit lebih terang. Makhluk penjaga itu mundur pelan dan masuk ke balik lorong lagi. “Berarti kita harus ngumpulin semuanya,” kata Lily. “Baru bisa buka semuanya.”
Setelah istirahat sebentar, mereka melanjutkan perjalan ke lokasi ketiga. Berdasarkan catatan dari batu sebelumnya, arah selanjutnya ke timur laut. Mereka jalan cukup jauh sampai bertemu bukit kecil. Di bawahnya ada pintu batu yang hampir ketutup tanah. Mereka menggali dan masuk ke dalam. Di dalamnya ada dua lorong. Di dinding dekat percabangan ada tulisan aneh. Tapi mereka tidak mengerti apa artinya. Lorong itu sempit dan sedikit berbelok. Di ujungnya ada kotak batu lagi. Mereka membuka, dan mereka menemukan batu ke tiga, warnanya hijau gelap. Tapi begitu Ryan ambil batunya, lantai tiba-tiba runtuh! Mereka semua jatuh ke bawah. Mereka telah tiba di ruangan lain, bentuknya bulat, lebih besar dari sebelumnya. Tiba-tiba muncul makhluk besar seperti bayangan. Mereka pikir bayangan itu akan menyerang mereka. Tapi ternyata bayangan tersebut hanya diam. Mereka mengeluarkan ketiga batu yang sudah dikumpulkan dan meletakkannya di altar. Cahaya muncul, dan makhluk itu mundur ke lorong yang terbuka, membuka tangga naik ke permukaan. “Dia cuma mau liat batu-batunya,” kata Misyel. “Kalau kita punya, dia ngasih jalan keluar.
Pagi harinya, cuaca jadi aneh. Langit gelap walau masih pagi. Mereka cepet-cepet lanjut ke titik keempat. Arah dari simbol sebelumnya nunjuk ke arah barat daya. Jalurnya lebih susah penuh lumpur dan pohon yang sangat lebat. Habis jalan cukup lama, mereka menemukan gua kecil. Karena angin makin kencang, mereka memutuskan untuk beristirahat di sana. Di dalam gua, Lily menemukan ukiran aneh di dinding. Bentuknya mirip simbol dari altar. Pas mereka memegang ukirannya, tiba-tiba air menetes dari batu. Beberapa bagian dinding pelan-pelan terbuka, nunjukin lorong kecil. Mereka masuk. Di ujungnya ada ruangan bundar kecil. Di tengahnya ada batu keempat, warnanya biru terang. Leon mengambil batunya. Saat itu juga, bagian lain dari dinding terbuka sendiri, memberi jalan keluar. Keesokan harinya, Mereka mendengar suara seperti gemuruh dari tanah. Tapi bukan gempa terdengar lebih seperti suara makhluk yang sangat besar. Mereka mengikuti arah suara itu ke tenggara. Jalannya lewat hutan yang makin sepi dan panas. Setelah beberapa waktu, mereka sampai di tanah datar yang dikelilingi batu tinggi. Di tengahnya ada lubang besar. Mereka turun lewat tangga batu. Di bawah sana, ada altar lagi dan tiga pilar besar. Mereka meletakkan keempat batu yang sudah mereka punya. Salah satu pilar terbuka dan mengeluarkan batu kelima. Warnanya biru tua. Mereka mengambil batunya dan siap naik.
Pagi itu, suasana sunyi banget. Bahkan suara burung pun tidak ada. Mereka semua merasa aneh, tapi harus lanjut. Satu batu lagi. Mereka menuju dinding batu besar di utara. Di tengahnya ada lingkaran logam dengan enam lubang. Tapi batunya belum ada. Mereka mencari di sekitar. Lily menemukan tanah yang terasa kosong. Mereka menggali, ternyata itu pintu ke bawah tanah. Mereka turun ke ruangan kecil. Di sana ada sosok seperti patung manusia, tapi terbuat dari akar dan batu. Di tangannya ada batu keenam yang bewarna hitam. Saat Ryan mau ambil, mata patung itu menyala. Suara berat terdengar. “Yang layak… hanya yang tak meminta.” Mereka bingung. Tapi Lily punya ide. Dia taruh empat batu yang sudah dikumpulkan ke lantai, di depan patung. Patung itu menunduk, lalu menjatuhkan batu keenam ke tanah. Michael cepat-cepat mengambil batu itu.
Mereka naik lagi ke permukaan, dan memasukkan keenam batu ke lingkaran logam. Lingkaran itu menyala, lalu dinding batu terbelah. Di baliknya, ada ruangan besar tersembunyi di dalam gunung. “Ini yang kita cari selama ini” kata Ryan.
Setelah keenam batu—merah, hijau, biru tua, biru muda, kuning, dan hitam—ditempatkan pada tempatnya, dinding di depan mereka perlahan bergeser. Debu beterbangan saat celah besar terbuka dan memperlihatkan sebuah ruangan yang sangat besar. Cahaya dari batu menyinari bagian dalamnya, membuat simbol-simbol di dinding menyala pelan. Mereka melangkah masuk perlahan. Ruangan itu seperti aula kuno, dengan langit-langit tinggi dan dinding yang penuh ukiran. Di tengah-tengah ruangan terdapat lingkaran batu dengan pola yang mirip dengan posisi enam batu. Tampaknya, tempat itu memang dibuat untuk menyatukan keenam batu. Misyel memperhatikan ukiran di dinding. “Ini seperti… peta atau petunjuk. Tapi bukan arah keluar. Seperti… sesuatu yang harus dilakukan setelah semua batu ditemukan.” Ryan mendekati lingkaran batu di tengah ruangan. Ia menginjaknya perlahan, dan tiba-tiba lingkaran itu menyala. Sebuah mekanisme aktif. Suara bergemuruh terdengar dari bawah tanah. “Kita baru saja mengaktifkan sesuatu,” kata Michael. Dari bagian belakang ruangan, lantai mulai terbuka. Bukan lorong seperti sebelumnya, tapi semacam tanjakan yang perlahan naik seperti jalan menuju tempat lain.
Tanjakan itu membawa mereka ke sebuah lorong yang lebih terang. Tidak gelap dan sempit seperti lorong-lorong sebelumnya. Dindingnya halus, dan udara terasa lebih segar. Semakin mereka berjalan, cahaya alami mulai terlihat di ujung lorong. Cahaya itu bukan dari obor atau batu, tapi seperti cahaya matahari. “Apa itu cahaya matahari?” tanya Lily pelan. Mereka mempercepat langkah. Hati mereka berdebar, penuh harapan. Setelah perjalanan panjang di bawah tanah, akhirnya mereka tiba di ujung lorong. Di sana, terbuka mulut gua besar. Dari sana, mereka bisa melihat pemandangan yang sangat mengejutkan. Di depan mereka terbentang padang rumput luas, pepohonan tinggi, dan sungai kecil yang mengalir jernih. Langit terlihat biru cerah. Burung-burung beterbangan, dan suara alam terdengar jelas. “Ini seperti dunia lain,” kata Leon sambil menatap tak percaya. Mereka keluar dari gua dan menghirup udara segar. Rasanya seperti mimpi. Tak ada tanda-tanda manusia lain di sana. “Kita harus mencari tahu di mana kita sebenarnya,” kata Ryan. Mereka pun mulai menjelajahi padang rumput, penuh rasa penasaran.
Mereka berjalan melewati padang rumput yang luas. Rumputnya lembut, hijau, dan bergerak pelan tertiup angin. Burung-burung kecil beterbangan di antara pepohonan. Udara di tempat itu sangat segar, seolah belum pernah tersentuh manusia. “Tempat ini seperti belum pernah dijelajahi,” kata Misyel sambil menyentuh daun pohon yang tinggi dan lebat. Tak jauh dari situ, mereka melihat sesuatu. Bangunan tua dari batu, sebagian sudah runtuh, berdiri di tengah pepohonan. Seperti sisa-sisa dari peradaban lama. “Reruntuhan,” ucap Leon pelan. “Mungkin tempat ini punya sejarah panjang. Mereka berjalan mendekat. Dinding-dinding bangunan itu penuh dengan ukiran, mirip dengan yang mereka lihat di ruangan batu sebelumnya. Tapi di sini lebih besar dan lebih banyak. “Kita akan kemah di dekat sini malam ini,” kata Ryan. “Besok pagi kita mulai menjelajah ke dalam bangunan itu”. Lily mengangguk sambil mencatat semua yang ia lihat. “Semua ini harus kita catat baik-baik”. Malam mulai tiba. Mereka membangun tenda di dekat sungai kecil, tak jauh dari reruntuhan. Api unggun menyala, dan suara serangga malam terdengar dari balik semak-semak. “Tempat ini tenang sekali,” ucap Michael sambil menatap api. Tapi mereka semua tahu, ketenangan itu mungkin tidak akan berlangsung lama. Sesuatu menanti di dalam reruntuhan itu.
Malam perlahan tiba di dunia tersembunyi itu. Langit berubah menjadi jingga, lalu gelap dihiasi bintang-bintang. Ryan, Michael, Lily, Leon, dan Misyel duduk di sekitar api unggun kecil yang mereka buat di dekat sungai. Suara serangga dan gemericik air membuat suasana terasa tenang. Tapi di hati mereka, rasa penasaran masih terus tumbuh. “Besok kita harus ke reruntuhan itu,” kata Ryan sambil menunjuk ke kejauhan, ke arah bayangan bangunan kuno yang terlihat saat siang tadi. Michael mengangguk. “Bentuk bangunannya mirip seperti kuil atau menara tua. Mungkin itu tempat penting”. Aku penasaran siapa yang pernah tinggal di sini,” kata Lily sambil memandangi langit. “Tempat ini seperti dilindungi dari dunia luar”. Leon menambahkan, “Kalau ini memang dunia yang tersembunyi, bisa jadi belum pernah ada manusia modern yang menemukannya”. Misyel membuka catatannya. “Batu-batu itu sepertinya memang kunci untuk membuka tempat ini. Tapi kita belum tahu kenapa tempat ini disembunyikan. Malam itu mereka tidur dalam tenda sederhana. Api unggun perlahan padam. Di tengah keheningan malam, hanya suara alam yang menemani mereka. Mereka tahu, esok hari mungkin akan membawa petualangan baru dan mungkin juga lebih berbahaya.
Keesokan paginya, mereka bangun saat matahari mulai naik. Udara terasa segar dan hangat. Setelah sarapan ringan, mereka bersiap membawa catatan, kamera, dan alat pelindung. “Jalan ke sana tidak terlalu jauh,” kata Leon sambil menunjuk arah reruntuhan di ujung lembah. Mereka berjalan melewati padang rumput, menyeberangi sungai kecil, lalu naik sedikit ke bukit tempat reruntuhan berada. Bangunan itu tampak sudah sangat tua. Dindingnya ditutupi lumut dan sebagian sudah runtuh. “Aku merasa tempat ini dulunya penting,” kata Lily sambil menyentuh dinding batu. Di dalam reruntuhan, mereka menemukan ruang besar yang lantainya penuh dengan simbol. Di tengah ruangan, ada pilar pendek dengan cekungan kecil berbentuk lingkaran. Michael menatapnya. “Seperti tempat untuk menaruh sesuatu”. Misyel memeriksa catatannya. “Cekungan ini pas sekali dengan bentuk batu yang kita temukan.”Ryan mengangguk. “Tapi semua batu sudah kita gunakan untuk membuka ruangan sebelumnya. Mungkin ini… semacam pelacak?” Saat mereka berdiskusi, Leon menemukan jalan lain di balik reruntuhan. Sebuah pintu batu setengah terbuka yang tertutup oleh akar dan semak belukar. “Tempat ini belum selesai menunjukkan semua rahasianya,” katanya.
Leon membersihkan semak-semak di sekitar pintu batu. Mereka semua membantu menyingkirkan akar dan daun kering. Setelah itu, pintu bisa didorong perlahan dan terbuka dengan suara berderit. Di balik pintu, mereka menemukan lorong pendek yang mengarah ke dalam bukit. Tidak terlalu gelap, karena dari celah-celah batu, cahaya alami masuk menerangi jalan. “Tempat ini tidak sepenuhnya tertutup,” kata Lily. Lorong itu membawa mereka ke sebuah ruangan kecil. Di dalamnya hanya ada satu meja batu dan ukiran di dinding. Ukiran itu menggambarkan enam batu dengan garis-garis cahaya mengarah ke sebuah bola besar di tengah. Misyel mendekat dan membaca simbol di bawahnya. “Tertulis: ‘Enam Kekuatan, Satu Tujuan. Cahaya Bangkit Saat Dunia Gelap.’”Michael bertanya, “Apa maksudnya? Dunia gelap?” Ryan berpikir sejenak. “Mungkin batu-batu itu bukan hanya kunci, tapi sumber kekuatan. Sesuatu yang bisa digunakan jika ada ancaman besar”. Di bawah meja batu, Leon menemukan kotak kecil tertutup. Ia membuka perlahan dan di dalamnya ada sebuah benda seperti peta kuno. Tapi bukan peta tempat biasa, melainkan simbol-simbol aneh yang belum mereka lihat sebelumnya. “Aku rasa ini adalah petunjuk selanjutnya,” ujar Misyel. Mereka keluar dari ruangan itu sambil membawa peta misterius. Hari mulai sore, tapi semangat mereka justru semakin besar. Ada sesuatu yang menunggu untuk ditemukan — dan batu-batu itu mungkin hanyalah awal dari segalanya.
Malam itu, mereka duduk mengelilingi api unggun sambil memandangi peta aneh yang mereka temukan. Tidak ada tulisan yang mereka kenali, tapi ada banyak simbol yang menyerupai bintang dan garis-garis yang membentuk pola melingkar. “Aku rasa ini bukan peta tempat, tapi peta langit,” kata Lily sambil menunjuk salah satu simbol. Michael mengambil alat teropong kecilnya dan mengarahkan ke langit. “Coba cocokkan dengan posisi bintang malam ini.” Setelah beberapa kali mencoba, mereka menyadari pola di peta itu cocok dengan langit malam saat ini. “Ini seperti kalender bintang,” kata Misyel. “Mungkin ini menunjukkan waktu tertentu… saat sesuatu akan terjadi.” Ryan mengangguk. “Atau mungkin ini petunjuk ke mana kita harus pergi selanjutnya, tergantung posisi bintang.” Di bagian bawah peta, ada enam titik berwarna yang mencocokkan warna batu-batu mereka: merah, hijau, biru tua, biru muda, kuning, dan hitam. Di tengahnya, sebuah lingkaran besar kosong. “Kita harus mencari tempat di peta ini, tempat yang cocok untuk menggabungkan kekuatan enam batu,” ucap Leon. Malam itu, mereka tidur lebih cepat. Esok hari, mereka berencana naik ke puncak bukit untuk melihat lebih luas dan mencoba mencocokkan peta langit dengan kondisi sekitar. Petualangan belum selesai. Justru sekarang, rahasia sebenarnya mulai terbuka.
Tinggalkan Balasan ke Arron Batalkan balasan