Zona Merah 4

Setelah cahaya dari ruang inti menyebar, mereka semua berdiri terdiam. Suasana di sekeliling mereka terasa berbeda. Udara lebih segar, pepohonan di luar mulai tumbuh lebih hijau, dan bunga-bunga bermekaran seketika. Lily menatap keluar ruangan dengan kagum. “Tempat ini… hidup kembali.” Sungai yang sebelumnya tenang mulai mengalir lebih deras, jernih dan berkilau. Burung-burung dan hewan kecil muncul dari hutan, seakan-akan mereka baru saja dibangunkan dari tidur panjang. Michael tersenyum. “Sepertinya kita telah membuka sesuatu yang selama ini terkunci”. Misyel menambahkan, “Bukan hanya ruangan… tapi seluruh dunia yang tersembunyi ini”. Ryan berdiri di tengah lingkaran batu, menatap cahaya yang perlahan mengecil dan masuk kembali ke batu-batu yang telah mereka letakkan. Kini keenam batu itu menyatu, tidak bisa diambil lagi. Mereka menjadi bagian dari lingkaran selamanya. Leon menghela napas lega. “Kalau begitu, misi kita menemukan batu-batu itu sudah selesai. Tapi aku yakin… perjalanan kita belum benar-benar berakhir”. Mereka pun keluar dari ruangan inti, melangkah ke lembah yang kini penuh kehidupan baru. Tempat itu terasa lebih indah dan lebih terang dari sebelumnya. Malam itu mereka duduk di sekitar api unggun. Suasana di lembah terasa lebih hangat dan tenang setelah cahaya dari ruang inti menyebar. Semua tampak lebih hidup, tapi mereka tahu perjalanan masih panjang. Ryan membuka suara, “Sekarang kita sudah menemukan dan mengaktifkan batu-batu itu. Pertanyaannya… apa langkah kita selanjutnya?” Michael mengangguk. “Kita harus menjelajahi lebih jauh. Reruntuhan di seberang lembah mungkin punya jawaban lain”. Lily tersenyum kecil. “Aku juga ingin tahu, siapa yang membangun semua ini? Pasti ada kisah besar di baliknya”. Leon menambahkan, “Dan mungkin ada bahaya lain yang menunggu. Jadi kita harus tetap berhati-hati”. Misyel menatap bintang di langit. “Yang jelas, kita tidak bisa berhenti di sini. Dunia ini sudah membuka pintunya untuk kita. Saatnya mencari tahu apa yang benar-benar disembunyikan”. Mereka semua mengangguk. Malam itu mereka beristirahat dengan tenang, sambil menyiapkan hati untuk petualangan baru yang menanti esok hari.

Keesokan paginya, mereka berkemas lebih cepat dari biasanya. Tujuan mereka jelas: reruntuhan di seberang lembah. Dari kejauhan, bangunan itu terlihat seperti dinding batu besar dengan pilar-pilar tinggi yang sudah runtuh sebagian. Mereka berjalan melewati padang rumput yang luas. Angin lembut membuat rumput bergoyang, seperti ombak hijau. Sesekali mereka mendengar suara burung yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya. ”Tempat ini terasa begitu damai,” kata Lily sambil tersenyum. “Tapi biasanya, tempat yang damai menyimpan misteri,” jawab Leon hati-hati. Perjalanan mereka tidak mudah. Mereka harus menyeberangi sungai yang airnya cukup deras. Ryan dan Michael membuat jembatan sederhana dari batang pohon agar semua bisa melewati dengan aman. Setelah beberapa jam berjalan, akhirnya mereka berdiri di depan reruntuhan itu. Ukiran kuno masih terlihat di dinding yang tersisa, meskipun sudah ditutupi lumut dan akar pohon. Misyel menatap ukiran itu dengan serius. “Sepertinya ini bukan hanya reruntuhan biasa. Bisa jadi ini adalah kunci untuk mengerti tujuan batu-batu itu”.

Mereka mulai memasuki reruntuhan itu. Dinding-dinding tinggi menjulang, meski sebagian sudah roboh. Cahaya matahari masuk melalui celah, membuat suasana terasa tenang tapi juga menegangkan. Di dalam, mereka menemukan lorong pendek yang berakhir pada sebuah ruangan terbuka. Lantainya dipenuhi batu pecah, namun di tengahnya ada sebuah altar batu besar. Ukiran pada altar itu mirip dengan simbol enam batu yang mereka bawa. Ryan mengeluarkan batu merah dan meletakkannya di atas altar. Seketika ukiran menyala samar. ”Sepertinya tempat ini memang dibuat untuk batu-batu itu,” kata Michael. Lily mendekati altar. “Tapi… untuk apa? Apa yang terjadi kalau semua batu dipasang di sini?” Leon menatap sekeliling. “Mungkin kita akan tahu jawabannya. Tapi kita harus hati-hati. Bisa saja ada hal yang berbahaya”. Misyel mengangguk. “Ini bukan sekadar bangunan kuno. Ini seperti… sebuah pusat dari semuanya.”Mereka pun menyiapkan diri, tahu bahwa langkah selanjutnya bisa membuka misteri besar atau malah bahaya yang lebih dalam.

Setelah memastikan altar aman, mereka perlahan meletakkan batu-batu lain di atasnya: hijau, biru tua, biru muda, kuning, dan hitam. Begitu batu terakhir menyentuh permukaan, seluruh ruangan bergetar pelan. Ukiran di altar mulai bersinar lebih terang. Cahaya dari setiap batu menyatu dan membentuk lingkaran bercahaya di udara. “Apa yang terjadi?” tanya Lily dengan nada gugup. Tiba-tiba, cahaya itu membentuk peta tiga dimensi. Peta itu menampilkan lembah tempat mereka berada, hutan di sekitarnya, dan sebuah titik terang di kejauhan. Ryan menunjuk titik itu. “Mungkin ini tujuan berikutnya. Tempat yang harus kita datangi”. Michael menarik napas panjang. “Kalau benar begitu, berarti perjalanan kita baru saja dimulai lagi”. Mereka saling berpandangan, lalu tersenyum tipis. Meski lelah, rasa penasaran membuat mereka ingin terus maju.

Pagi itu mereka berjalan masuk ke hutan. Pohonnya tinggi-tinggi, udara segar tapi agak lembab. Cahaya matahari hanya sedikit masuk lewat celah daun. Lily tiba-tiba berhenti. “Kalian dengar? Ada suara seperti bisikan”. Mereka diam. Memang ada suara aneh, seperti orang berbisik dibawa angin.

Misyel melihat bunga kecil berwarna biru muda di tanah. “Bunganya bergerak sendiri…” katanya pelan. Leon menempelkan tangannya ke batang pohon besar. Dari dalam pohon terdengar bunyi gema, seolah pohon itu menjawab. Ryan menatap sekeliling. “Hutan ini seperti hidup”. Michael mengangguk. “Mungkin hutan ini punya cara sendiri menjaga rahasia. Kita tetap harus hati-hati”. Mereka mengikuti suara itu sampai tiba di lapangan kecil. Di tengahnya ada batu bulat besar yang ditumbuhi lumut. Anehnya, di sekitar batu itu udara terasa hangat dan tenang. Lily berbisik, “Mungkin hutan ini punya penjaga”. Mereka berdiri diam, merasa tempat itu berbeda. Petualangan mereka ternyata bukan hanya soal batu, tapi juga rahasia besar di balik dunia ini. Pagi itu mereka berjalan melewati padang rumput luas. Angin bertiup pelan, membawa aroma bunga liar. Dari kejauhan terlihat jejak seperti roda besar yang menekan tanah. “Seperti ada sesuatu yang lewat di sini,” kata Michael sambil jongkok melihat bekas jejak itu. Leon menambahkan, “Ini bukan jejak hewan. Bentuknya terlalu rapi”. Mereka mengikuti jejak itu. Tidak lama kemudian, mereka menemukan potongan logam tua yang setengah tertutup tanah. Ryan mengangkatnya. “Sepertinya bagian dari gerobak… atau mesin kuno”. Lily melihat sekeliling. “Kalau ada yang pernah lewat, mungkin masih ada yang tinggal di tempat ini”. Misyel tersenyum kecil. “Akhirnya, petunjuk lain selain batu”. Mereka pun terus berjalan, mengikuti jejak itu menuju arah hutan kecil di ujung padang rumput.

Mereka masuk ke dalam hutan kecil. Suasana berubah sunyi, hanya terdengar suara daun bergoyang tertiup angin. Pohon-pohon tinggi berdiri rapat, membuat cahaya matahari hanya masuk sedikit. Di tanah, jejak roda yang tadi mereka ikuti masih terlihat jelas. Ryan berjalan paling depan sambil waspada. Tiba-tiba Lily menunjuk ke sebuah batu besar. “Lihat itu!” Di atas batu ada tanda ukiran aneh, berbentuk lingkaran dengan garis-garis di dalamnya. Seolah memberi petunjuk arah. Leon mendekat dan menyentuh ukiran itu. “Seperti simbol di dinding ruangan yang kita temui dulu.” Michael menoleh ke jalan setapak kecil di samping batu. “Mungkin jejak ini akan membawa kita ke sesuatu yang lebih besar.” Mereka pun memutuskan untuk mengikuti jalan setapak itu, berharap menemukan jawaban baru. Jalan setapak itu membawa mereka ke sebuah tempat terbuka. Di sana ada bangunan batu yang sebagian tertutup akar pohon dan lumut. Bentuknya seperti kuil kecil yang sudah lama ditinggalkan.” Sepertinya sudah ratusan tahun,” kata Misyel sambil menyentuh dindingnya. Pintu kuil itu sedikit terbuka. Ryan mendorongnya perlahan, suara berderit terdengar. Di dalam, udara terasa dingin dan lembap. Mereka melihat patung-patung tua berjajar di dinding. Beberapa rusak, tapi masih tampak jelas bahwa patung itu menggambarkan orang-orang dengan pakaian kuno. Lily berbisik, “Mungkin ini tempat orang-orang yang dulu menjaga rahasia lembah ini”. Di tengah ruangan ada meja batu besar. Di atasnya, tergeletak gulungan tua yang terikat kain. Michael menatap yang lain. “Kita harus melihat isinya”.

Ryan membuka gulungan itu dengan hati-hati. Kainnya rapuh, tapi tulisan di dalamnya masih terlihat. Huruf-hurufnya asing, namun ada gambar-gambar yang mudah dipahami. “Lihat ini,” kata Leon sambil menunjuk. Gambar pertama menunjukkan enam batu dengan cahaya terang. Gambar kedua memperlihatkan pintu besar terbuka, lalu sebuah cahaya keluar dari dalamnya. “Sepertinya ini petunjuk,” ujar Misyel. “Batu-batu itu bukan hanya kunci, tapi juga pembuka sesuatu yang lebih besar.” Lily mengangguk. “Mungkin bukan sekadar ruangan, tapi tempat yang lebih penting lagi”. Mereka semua terdiam sebentar, membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka mengikuti petunjuk itu. Michael menarik napas panjang. “Kalau benar, berarti perjalanan kita masih panjang”.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai